Tampilkan postingan dengan label Liputan Media Massa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Media Massa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 September 2014

Populasi Sapi Potong Di Cilacap Paling Kecil Di Jawa Tengah



Populasi Sapi Potong di wilayah Kabupaten Cilacap paling kecil dibandingkan wilayah kabupaten lainya di Jawa Tengah. Padahal, kabupaten Cilacap memiliki wilayah paling luas di Jawa Tengah.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Cilacap, Susilan membenarkan, bahwa populasi sapi potong di Cilacap adalah paling kecil di Jawa Tengah.

Jumat, 05 September 2014

Sapi impor ditawarkan Rp. 27 juta

Sapi impor ditawarkan Rp. 27 juta





CILACAP - Untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban menjelang Idul Adha 1433 Hijriyah,para pedagang mulai mendatangkan kambing dan sapi ke Cilacap.
  Harganya beragam.Harga kambing Rp. 1.200.000 sampai Rp. 1.400.000 per ekor.Harga sapi antara Rp. 10 juta dan Rp. 12 juta per ekor.Ada juga pedagang yang menawarkan sapi impor.
  Pemilik UD Marga Jaya,Sugeng Jaswadi mengatakan untuk memenuhi permintaan hewan kurban pihaknya tahun ini menyediakan sapi lokal impor. Saat ini dikandang masih terdapat sapi limousin yang diimpor dari Selandia Baru.
  "Harga sapi limosin dari selandia baru Rp. 27 juta,mudah-mudahan ada yang membeli.Biasanya pejabat atau Pengusaha yang membeli sapi seperti itu.sapi limosin berbadan besar sehingga mantap untuk kurban," kata sugeng jaswadi kamis (11/10).
SAPI LOKAL
  Dia lebih banyak menyediakan sapi lokal,pertimbangannya,harga sapi lokal relatif lebih terjangkau masyarakat. Sebagian besar masyarakat membeli sapi seharga Rp 12 juta.Apalagi dibagi 7 orang ,berarti setiap orang membayar Rp. 1.700.000.
  "Saat ini stok sapi dikandang kami di jalan sadewo RT 04 RW 03 Tritih Wetan, kecamatan JerukLegi masih 31 ekor.Kami siap mengantar sapi yang dibeli sampai ke alamat,"katanya.
  Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan(DISPERTANAK) kabupaten Cilacap ,Edy Winarno mengatakan,kebutuhan hewan kurban baik sapi maupun kambing bisa dipenuhi oleh peternak lokal.Sebab saat ini populasi sapi diwilayahnya mencapai 20.100 ekor.Populasi kambing 110.000 ekor.
  "Jumlah sapi yang dipelihara peternak lokal cukup untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban tahun ini.Namun mungkin saja ada sapi dan kambing dari luar daerah yang dikirim ke Cilacap, itu justru lebih baik,karena bisa menjaga populasi hewan ternak ditingkat petani tidak berkurang,"katanya.(ag-55)

sumber : Suara Merdeka (Suara Banyumas) edisi cetak jum'at , 12 oktober 2012 halaman 25

Hewan Kurban Dilengkapi Kartu Sehat

  Hewan Kurban Dilengkapi Kartu Sehat
MENJELANG Idul Adha 1433 Hijriah, permintaan hewan ternak melonjak, terutama sapi dan kambing. Harga kedua jenis hewan itu pun naik dari hari biasa.
Saat ini para pedagang hewan kurban menawarkan kambing super atau berukuran besar dengan harga rata-rata Rp 1,4 juta per ekor, bahkan ada yang menembus angka Rp 1,5 juta per ekor. Adapun yang berukuran sedang rata-rata dijual Rp 1,2 juta per ekor.      
Untuk sapi harga per ekor berkisar antara Rp 10 juta sampai Rp 12 juta. Kebanyakan panitia kurban mencari sapi seharga Rp 12 juta, karena lumayan gemuk sehingga dagingnya jauh lebih banyak.
‘’Khusus untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban, kami saat ini telah menyediakan 31 ekor sapi. Harganya bervariasi mulai dari Rp 10 juta sampai Rp 12 juta,’’ kata Sutrisno Sudanto, pemasaran UD Marga Jaya, kemarin.
Menurut dia, pihaknya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jual-beli sapi. Semua sapi dipelihara dengan baik di kandang, sehingga kesehatannya terjamin.    
Berbicara soal kesehatan hewan kurban, Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cilacap H Soedarno minta agar Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) segera memeriksa kesehatan hewan ternak yang hendak dijual untuk kurban.
‘’Pemeriksaan kesehatan penting dilakukan untuk memastikan bahwa hewan tersebut dalam kondisi sehat dan dagingnya aman dikonsumsi,’’ katanya, kemarin.
Anthrax
Sampai saat ini masih ada penyakit hewan yang harus tetap diwaspadai yaitu anthrax. Penyakit hewan ini dapat menular ke manusia dan bersifat akut.
Penyakit itu umumnya menyerang domba, kambing, dan sapi. Manusia dapat terinfeksi karena mengonsumsi daging yang terkena bakteri atau melakukan kontak dengan hewan yang terkena penyakit tersebut.
Bakteri anthrax bisa masuk ke dalam tubuh melalui kulit, paru-paru atau saluran pencernaan. Gejala umum serangan anthrax pada manusia yaitu korban mengalami halusinasi buruk, pernapasan terganggu, timbul bisul berwarna hitam kemerahan yang apabila pecah akan menimbulkan luka. Penyebab anthrax adalah bakteri bacillus anthracis.
Selain itu, lanjut dia, Dispertanak juga harus memeriksa setiap hewan kurban yang didatangkan dari luar Cilacap. Biasanya para pedagang juga mendatangkan hewan dari luar daerah.
‘’Setiap hewan kurban dari luar daerah yang dijual di Cilacap harus dilengkapi keterangan sehat dari paramedik veteriner asal hewan. Kemudian semua tenaga paramedik veteriner di Dispertanak juga harus diterjunkan ke lapangan untuk mengecek kesehatan hewan kurban yang dijualbelikan,’’ katanya.
Menurut Kabid Peternakan Dispertanak, Edy Winarno, kegiatan pemeriksaan kesehatan hewan kurban sudah dilakukan sejak Kamis (11/10).
‘’Kami menerjunkan lima tenaga medik veteriner. Mereka adalah dokter hewan. Ditambah 13 tenaga paramedik veteriner atau yang dulu disebut mantri hewan,’’ katanya.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara mendatangi langsung ke kandang peternak atau ke lapak yang digunakan untuk tempat menjual hewan kurban. Pemeriksaan mencakup fisik hewan secara keseluruhan dan hal-hal lain yang nampak.
Setiap hewan kurban yang dinyatakan sehat akan diberi kartu sehat yang dikalungkan di leher. Kalau tidak sehat secara otomatis tidak mendapatkan kartu tersebut.
Kartu sehat tersebut tidak boleh dilepas. Masyarakat atau panitia kurban disarankan membeli hewan kurban yang sehat. Caranya, sebelumnya membeli, dicek dulu kartu sehat yang tergantung di leher hewan yang akan dibeli.(Agus Sukaryanto-17,47)

Kamis, 21 Februari 2013

Sapi Impor untuk Qurban Hanya Diminati Pejabat dan Pengusaha


Sapi Impor untuk Qurban Hanya Diminati Pejabat dan Pengusaha


 

 

CILACAP, (PRLM).- Impor sapi potong dari Australia melalui Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap, Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin menurun. Sejak tiga tahun terakhir penurunannya mencapai 60 persen. Padahal sapi impor menjelang hari raya Idhuladha ditawarkan seharga Rp 27 juta
  Menurut Sugeng Jaswadi, pemilik UD Marga Jawa Cilacap, pihaknya menawarkan sapi lokal dan sapi impor untuk Iduladha. Khusus sapi impor dari Selandia Baru jenis limosin dia tawarkan seharga Rp 27 juta per ekor. “Memang jarang masyarakat yang berkurban dengan sapi impor karena harganya yang mahal. Meski demikian tetap ada yang laku satu atau dua ekor, biasanya yang membeli kalau tidak pejabat ya pengusaha,” katanya.
  Berdasarkan data di PT Pelindo III Tanjung Intan, Jumlah sapi impor sampai September 2012 mencapai 15.573 ekor sapi atau turun jika dibandingkan pada 2010.
  Saat itu impor yang masuk dari Australian melalui stasiun karantina Pelabuhan Tanjung Intan cukup tingga tercatat 26.098 ekor. Sementara pada 2011 menurun hingga 18.302 ekor. "Sejak tiga tahun ini impor sapi yang masuk melalui pelabuhan Tanjung Intan terus menurun, pada 2010 impor mencapai 26.098 ekor kemudian tahun berikutnya 2011 hanya 18.302 ekor. Sementara laporan yang masuk hingga September 2012 tidak lebih dari 15.573 ekor sapi,"kata Humas Pelindo IIII Cabang Tanjung Intan Cilacap Muhamad Ghozali, Jumat (12/10/12)
  Hal yang sama disampaikan Kepala Stasiun Karantina Hewan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IIII Cabang Tanjung Intan Cilacap, Jateng, Adi Mardin mengakui bahwa dari tahun ke tahun jumlah sapi potong impor dari Selandia Baru maupun Australia yang dikarantinakan di Pelabuhan Tanjung Intan terus mengalami penurunan.
  “Kemungkinan karena kebijakan dari pusat yang mengurangi jumlah sapi potong impor untuk tujuan swasembada daging 2012. Sebab Kondisi yang sama juga terjadi Pelabuhan yang mempunyai fasilitas karantina seperti di Lampung atau Jakarta,” jelasnya.
  Terakhir pada Oktober ada impor sapi dari Australia jenis sapi perah pesanan dari Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Baturaden, Purwokerto sejumlah 408 ekor.
  Menurut dia, dalam beberapa hari ini akan datang lagi sapi potong dari Australia sebanyak 4.000 ekor. ”Tapi itu baru informasi secara lisan. Persoalannya saat ini kandang di stasiun karantian hewan masih ada 408 ekor sapi titipan dari BPTU, sebab masih dalam proses masa karantinya selama 14 hari. untuk memastikan kondisi kesehatannya,” terangnya.
  Marden menambahkan sebagian besar pengusaha yang menggunakan fasilitas
pelabuhan Tanjung Intan adalah importir dari Jawa Barat, PT Agro di Kabupaten Garut. Pengusaha dari Jateng jarang yang memanfaatkan fasilitas tersebut.
  Menurut dia, rata-rata sapi impor untuk kebutuhan Jabar yang masuk melalui pelabuhan Tanjung Intan mencapai 2.000 ekor per bulan. (A-99/A-88)***